Martabak Har Palembang Kuliner Legendaris dengan Kuah Kari Otentik

Martabak Har Palembang Kuliner Legendaris dengan Kuah Kari Otentik

Smallest Font
Largest Font

Palembang tidak hanya dikenal dengan pempeknya yang mendunia, namun juga memiliki kekayaan kuliner lain yang tak kalah legendaris bernama Martabak Har Palembang. Bagi para pelancong yang berkunjung ke Kota Jembatan Ampera ini, mencicipi martabak dengan siraman kuah kari kental adalah sebuah kewajiban kuliner. Hidangan ini menawarkan perpaduan tekstur kulit yang renyah dengan isian telur yang gurih, disempurnakan oleh aroma rempah kari yang sangat kuat dan autentik.

Keberadaan Martabak Har Palembang telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat setempat selama puluhan tahun. Berbeda dengan martabak telur pada umumnya yang menggunakan campuran daging cincang dan daun bawang di dalam adonannya, Martabak Har justru tampil lebih sederhana namun dengan teknik pengolahan yang sangat spesifik. Kesederhanaan isian ini justru memberikan ruang bagi kuah karinya untuk menjadi bintang utama dalam setiap suapan yang dinikmati konsumen.

Kedai pertama Martabak Har di Palembang
Kedai Martabak Har pertama yang didirikan oleh Haji Abdul Rozak menjadi tonggak sejarah kuliner di Palembang.

Sejarah Panjang Martabak Har Palembang Sejak 1947

Nama "HAR" sendiri bukanlah sekadar singkatan tanpa makna. HAR merupakan inisial dari sang pendiri, yaitu Haji Abdul Rozak. Beliau adalah seorang saudagar keturunan India yang menetap di Palembang dan mulai memperkenalkan resep keluarga ini pada tanggal 7 Juli 1947. Sejak saat itu, martabak ini mulai mencuri perhatian masyarakat lokal karena rasanya yang unik dan berbeda dari kuliner Melayu atau Jawa yang sudah ada sebelumnya.

Haji Abdul Rozak membawa pengaruh budaya kuliner India-Muslim ke dalam cita rasa lokal Palembang. Penggunaan rempah-rempah seperti jintan, kapulaga, dan kunyit dalam kuah karinya mencerminkan warisan leluhur yang dijaga ketat keasliannya. Hingga saat ini, pengelolaan Martabak Har masih banyak dilakukan oleh keturunan beliau, guna memastikan standar rasa yang sama seperti saat pertama kali kedai ini dibuka di depan Masjid Agung Palembang.

Filosofi di Balik Kesederhanaan Martabak Har

Banyak orang bertanya-tanya mengapa Martabak Har hanya berisi telur tanpa campuran sayuran. Filosofi ini sebenarnya merujuk pada fokus kualitas bahan. Haji Abdul Rozak ingin menonjolkan tekstur adonan kulit (filo pastry lokal) yang tipis dan renyah. Dengan hanya menggunakan telur ayam atau telur bebek, kelembapan di dalam martabak terjaga sehingga kulit luarnya tetap crispy meski sudah disiram kuah kari yang panas.

Perbedaan Mencolok Martabak Har dengan Martabak Telur Biasa

Secara visual, Martabak Har mungkin terlihat mirip dengan martabak telur di daerah lain. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada beberapa perbedaan fundamental yang membuatnya begitu eksklusif. Berikut adalah tabel perbandingan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas bagi Anda.

FiturMartabak Har PalembangMartabak Telur Biasa (Martabak Bangka/Mesir)
Isian UtamaHanya Telur (Ayam atau Bebek)Daging Cincang, Daun Bawang, Bumbu Rempah
Tekstur KulitSangat Tipis dan Sangat RenyahLebih Tebal dan KenyalSaus PendampingKuah Kari Kentang dan Daging SapiCuka (Cuko) Kecap dengan Acar TimunCara MasakDigoreng dengan minyak sedikit (Pan-fried)Deep-fry dengan minyak banyak

Perbedaan yang paling menonjol tentu terletak pada kuah kari kentang. Jika martabak di Jakarta atau daerah lain menggunakan saus cuka yang cenderung asam manis, Martabak Har memberikan sensasi gurih rempah yang berat dan mengenyangkan. Potongan kentang yang dimasak hingga lembut di dalam kari memberikan tekstur creamy alami tanpa perlu banyak tambahan santan berlebih.

Kuah kari kental martabak har dengan potongan kentang
Detail kuah kari kental dengan potongan kentang dan daging yang menjadi pasangan wajib Martabak Har.

Rahasia Kuah Kari Kental yang Menggugah Selera

Apa yang membuat orang rela mengantre demi sepiring Martabak Har Palembang? Jawabannya ada pada kuah karinya. Rahasia kuah ini terletak pada perpaduan rempah kering dan rempah basah yang ditumis dalam waktu lama hingga mengeluarkan minyak atsiri yang harum. Bahan-bahan seperti kayu manis, cengkeh, dan bunga lawang memberikan aroma eksotis yang langsung tercium begitu hidangan disajikan.

  • Penggunaan Kentang: Kentang dihancurkan sebagian untuk mengentalkan kuah secara alami.
  • Daging Sapi: Selain kentang, biasanya terdapat potongan daging sapi atau kambing yang memberikan rasa umami yang mendalam.
  • Keseimbangan Rasa: Meski kaya rempah, rasa karinya tidak terlalu pedas sehingga cocok dinikmati oleh semua usia.
  • Sambal Cuka: Untuk menyeimbangkan rasa gurih yang berat, biasanya disediakan irisan cabai rawit dalam kecap asin atau cuka encer.
"Kunci dari kelezatan Martabak Har bukan terletak pada seberapa banyak isian telurnya, melainkan pada konsistensi rasa kuah karinya yang tidak berubah sejak tahun 1947. Ini adalah warisan rasa, bukan sekadar komoditas dagang."

Tips Menikmati Martabak Har Seperti Warga Lokal

Untuk mendapatkan pengalaman kuliner yang maksimal, jangan hanya memakan martabaknya saja. Warga Palembang memiliki cara tersendiri dalam menikmati hidangan ini. Pertama, pecahkan sedikit bagian tengah martabak yang masih panas, lalu siramkan kuah kari ke dalamnya agar meresap ke lapisan telur. Tambahkan beberapa tetes cuka cabai rawit untuk memberikan sensasi pedas-asam yang akan memecah kekayaan rasa lemak dari kari.

Waktu terbaik untuk menikmati Martabak Har Palembang adalah saat sarapan atau di malam hari ketika cuaca sedang sejuk. Tekstur kulit yang renyah akan sangat nikmat jika dipadukan dengan segelas teh tawar hangat atau kopi lokal Sumatera Selatan yang pekat. Jangan lupa untuk meminta tambahan kuah kari jika Anda merasa kurang, karena biasanya kedai Martabak Har sangat royal dalam memberikan saus pendamping ini.

Suasana kedai martabak har di jalan sudirman
Kedai Martabak Har di Jalan Sudirman tetap menjadi tujuan utama wisatawan karena nilai historisnya.

Lokasi Cabang Martabak Har Paling Legendaris di Palembang

Meskipun saat ini banyak kedai yang menggunakan nama serupa, cabang yang paling dianggap otentik oleh warga lokal adalah yang terletak di Jalan TGP Sudirman, tepat di seberang Masjid Agung Palembang. Bangunannya mungkin terlihat sederhana dan bergaya lama, namun di sanalah resep asli Haji Abdul Rozak tetap dipertahankan tanpa modifikasi modern yang berlebihan.

Selain di Jalan Sudirman, cabang lain yang cukup populer berada di kawasan Simpang Sekip dan Jalan Kebun Sayur. Setiap cabang biasanya dikelola oleh garis keturunan yang berbeda, namun tetap membawa standar mutu yang sama. Bagi Anda yang berada di luar kota Palembang, beberapa cabang juga telah dibuka di Jakarta dan kota besar lainnya, meski banyak yang berpendapat bahwa makan langsung di kota asalnya memberikan sensasi atmosfer yang berbeda.

Menjaga Eksistensi di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Di era di mana martabak manis dengan aneka topping kekinian sedang menjamur, Martabak Har Palembang tetap berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan tradisi. Ia tidak berusaha mengikuti tren dengan menambahkan keju mozzarella atau topping aneh lainnya. Loyalitas pelanggan yang terus mengalir dari generasi ke generasi membuktikan bahwa rasa yang otentik akan selalu menemukan tempat di hati penikmatnya.

Rekomendasi terbaik bagi Anda yang pertama kali mencoba adalah memesan menu martabak telur bebek. Telur bebek memberikan tekstur yang lebih padat dan rasa yang lebih gurih dibandingkan telur ayam, sehingga sangat serasi saat beradu dengan rempah kari yang tajam. Martabak Har bukan sekadar makanan, ia adalah sejarah yang bisa dimakan, sebuah warisan dari Haji Abdul Rozak yang akan terus mengharumkan nama Palembang di peta kuliner nusantara. Jadi, pastikan Martabak Har Palembang masuk dalam daftar prioritas kunjungan Anda berikutnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow